Aku muak denganmu. Aku heran, kebencianmu terlalu berlebihan. Seakan-akan semuanya tidak pernah terjadi.
Padahal aku tidak pernah berubah. Tetap sama seperti pertama kali kita bertemu.
Aku hanya bisa menertawakan kenyataan ketika terlintas kenangan tentangmu.
Jika kenanganku adalah sebuah buku, maka buku itu ada padamu.
Buku itu tidak terlalu penting, dibuang juga tidak masalah, tapi selalu ada orang lain yang menjaga buku itu dengan baik, dan aku menyebutnya, Kawan.